Akhlak Rasulullah Adalah Al-Quran

  • Whatsapp

Garut, mediagempar.web.id- Peringatan Maulud Nabi besar SAW yang digelar di Mesjid Jami Al-Salsiah Kampung Simpen Pojok RW/T/ 06/01/, Jumat (13/11/2020) berlangsung penuh khidmat. Dalam acara yang cukup sakral tersebut tampil sebagai pembawa tausyiah Rd.Junjunan, A.Md yang juga Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat.

Peringatan Maulud ini mengusung Tema “pentingnya Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW”

Hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Simpen Kaler Ali Saefudin dan sejumlah Tokoh masyarakat Desa tersebut.

Menyitir salah satu hadist Nabi Muhammad SAW bahwa Agama itu khusnul khuluk (akhlak yang baik). Demikian tutur Ahli trafis Kejiwaan ini mengawali tausyahnya.

Dalam menjalani kehidupan dewasa ini, manusia memerlukan pedoman dan keteladanan sebagai panutan dalam aktivitasnya. Umat Islam, hendaknya merujuk pada kepribadian dan akhlak Nabi Muhammad SAW dengan sebaik-baiknya.

“Dengan merujuk akhlak Rasulullah SAW, Insya Allah persoalan hidup kita akan ada jalan keluar,” ujarnya.

Dalam perspektif moral dahulu, imbuhnya, Rasulullah berdakwah dengan mengedepankan akhlak, bukan dengan kekuatan senjata, bukan kekerasan juga, bukan dengan cara biadab.

“Yang beliau tonjolkan adalah akhlak mulia dan akhlak terpuji,” serunya.

Seperti apa akhlak Rasulullah? Manakala para sahabat nabi bertanya tentang kepribadian Rasulullah, Siti Aisyah, istri nabi, menegaskan, bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran.

“Alquran yang memang diturunkan di bulan Ramadan mesti menjadi rujukan dan referensi sebagai pedoman hidup kita,” ungkapnya seraya mengatakan, saat era jahiliah atau masa kebodohan di Mekah pada abad 15 silam, ketika itu kehidupan masyarakatnya mengidap penyakit kronis 5M, yaitu maling (korupsi), main (judi), minum (mabok) dengan minuman keras atau miras, madon (prostitusi), dan madat (narkoba).

Apa yang dilakukan Rasulullah kemudian? Beliau melakukan dakwah dengan memberikan nilai-nilai keteladanan, melalui akhlaknya yang mulia sehingga penyakit sosial dapat diatasi. Perlahan terjadi perubahan dari kondisi masyarakat yang rusak menjadi baik.

Junjun mengemukakan, Rasulullah SAW memang diutus Allah ke dunia untuk memperbaiki akhlak.

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak,” demikian tandasnya mengutip hadis riwayat Al-Bukhari dan Abu Hurairah RA.

Dulu Reformasi akhlak yang dilakukan Nabi menggunakan pendekatan qurani dan pendekatan keteladan pun menjadi obat mujarab. Mengingat kepribadian Rasul yang sejak usia kecil dan remaja telah dipercaya masyarakat dengan gelar Al-Amin atau ‘Yang Dipercaya’.

“Beliau telah menjadi teladan dan role model contoh yang baik bagi masyarakatnya ketika itu sehingga pengaruhnya cukup kuat. Amat berbeda ketika contoh yang diberikan hanya dalam lisan atau ucapan saja, tentu akan kurang diperhatikan,” sebutnya.

Sosok yang lembut yang penuh kasih sayang itu, mampu mengubah masyarakat saat itu, dari biadab menjadi beradab. Karena kelembutan dan kasih sayangnya itu, Rasulullah digelari nabiyurrahman atau nabi yang penuh kasih sayang. Hal ini ini sejalan dengan esensi Alquran yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah sebagai rahmat bagi umat manusia.(Kang Baden)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *