Ayo Berkunjung ke Obyek Wisata Situ Cangkuang, Jangan Lupa Ikuti Protokol Kesehat
Garut, mediagempar.web.id- Kepala UPT Dinas Pariwisata ODTW Situ Cangkuang Wawan Kurnaedin. SE, saat ditemui di mediagempar.web.idsela-sela kesibukanya Kp.Pulo mengatakan, saat ini Obyek Wisata situ cangkuang ini, selain unik dengan sejarahnya juga di lokasi kampung pulo sedikit demi sedikit telah dibenahi lagi ada rumput sintetis untu bermain anak dan para pengunjung lainyapun terlihat bila diam di kampung pulo terlihat nyaman nan indah.
Selain itu adanya akses perahu, mushola, toilet, tempat istirahat, gasebo, penjual makanan dan lebih menarik lagi di obyek wisata juga adanya Dermaga Rawa Cinta. yang dijadikan obyek okeh para remaja tempat selvi dan hiburan, ucap Wawan.

Mudah- mudahan di tahun 2021 terkait destinasi wisata yang direncanakan Pemprop Jabar segera terwujud. Sebab hal itu sangat dinantikan olah para pengunjung.
Saat dusinggung soal pengunjung libur panjang. Wawan membenarkan situ Cangkuang dibanjiri pengunjung. Ya hari minggu kemarin sesuai data base mencapi kurang lebih 1.000 pengunjung yang datang ke obyek wisata ini, sedangkan hari-hari biasa hanya 200 hingga 300 pengunjung.
Namun, kata Wawan perlu digaris bawahi dari jumlah 1.000 pengunjung 50 persen dispensasi karena pengunjung tersebut dari daerah terdekat ( Leles). Jadi hanya 50 persen yang asli pengunjung dari daerah lain, pungkasnya.
Konon di obyek Wisata Cangkuang terdapat situs. Salah satunya adalah Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Garut yang asal-usulnya masih menjadi tanda tanya.

Candi Cangkuang tersebut merupakan candi Hindu yang bisa dilihat di Kampung Pulo, Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Ini pertama kali ditemukan tahun 1966 oleh tim peneliti yang salah satunya bernama Uka Tjandrasasmita.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan laporan dalam buku sejarah mengenai adanya arca siwa dan makam Muslim di bukit Kampung Pulo.
“Di Cangkuang itu ada sebuah arca Siwa dan makam Arif Muhammad, tidak menjelaskan adanya candi. Lalu Uka Tjandrasasmita curiga ada apa gerangan. Pasalnya, bila ada nama Muhammad sudah jelas nama Muslim, sedangkan Siwa nama dewa dalam agama Hindu,” ujar Zaki Munawar, juru pelihara yang menjadi pemandu saat mediagempar.web.id berkunjung ke Candi Cangkuang pekan lalu.
Setelah digali, ditemukan fondasi berukuran 4,5×4,5 meter dan puing-puing candi yang berserakan. Tidak ada keterangan jelas siapa atau kerajaan apa yang membangun candi, tapi dilihat dari batuannya dan kesederhanaan bentuk, Candi cangkuang diperkirakan didirikan pada abad ke-8, ucapnya.
“Tidak diketahui candi ini peninggalan siapa,” ungkap Zaki.
Batuan yang ditemukan tersebut kemudian dikumpulkan, tapi hanya 40% puing candi yang terkumpul. Akhirnya, candi tetap dipugar dengan puing yang ada ditambah batu yang dicetak agar mirip dengan perkiraan bentuk aslinya.
“Yang terkumpul hanya 40% saja tapi mewakili seluruh bangunan candi. Dengan berbagai pertimbangan, Candi Cangkuang dipugar tahun 1974-1976 tapi yang aslinya 40%. Yang 60% dicetak di wilayah ini sehinggga kelihatan bentuknya yang asli,” jelas Zaki.
Usai dipugar, jadilah Candi Cangkuang dengan ukuran 4x18x8 meter. Arca Siwa yang sebelumnya telah ditemukan di simpan di dalam candi. Nama candi juga diambil sesuai nama daerah setempat.
“Setelah selesai, diberi nama Candi Cangkuang sesuai nama tempat ditemukan. Nama cangkuang diambil dari nama pohon pandan,” ucapnya.
Hingga kini, Candi Cangkuang masih berdiri tegak di sebelah makam Arif Muhammad di Kampung Pulo dan sudah menjadi kawasan cagar budaya. Keberadaan candi Hindu dan makam Muslim yang bersebelahan ini juga menggambarkan keharmonisan umat beragama penduduk setempat.
Traveler yang penasaran ingin datang ke kawasan Cagar Budaya Candi Cangkuang, bisa berkunjung setiap hari sejak sekitar pukul 07.00-17.00. Biayanya mulai dari Rp 3 ribu untuk turis lokal dan Rp 5 ribu untuk turis mancanegara. ( Sighar)






