Begini Nasib Dunia Pendidikan Ditengah Covid-19

  • Whatsapp
Oleh: Sighar

 

Oleh: Sighar

mediagempar.web.id– Nasib pendidikan di tengah wabah virus corona masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat.Keluh-kesah dan nada-nada kejenuhan mewarnai perbincangan itu. Kelelahan fisik psikis terpancar dari raut wajah para orang tua murid.

Hal itu karena ketidakpastian nasib sekolah anaknya. Sekolah yang dimaksud adalah pembelajaran tatap muka secara langsung.

Pembelajaran di sekolah berarti akhir dari peran orang tua sebagai guru pengganti selama sekolah tatap muka ditiadakan kemudian menjadi pembelajaran secara daring (online). Selama itu orang tua bertambah sibuk karena harus memberi penjelasan lanjutan dari materi pelajaran yang telah diberikan guru secara daring.

Namun, mengakhiri situasi itu menjadi pembelajaran tatap muka juga menghadapi persoalan yang tak kalah beratnya. Penyebaran virus corona (COVID-19) telah menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak akan terjadinya klaster di sekolah.

Sebab, betapapun keinginan untuk mengakhiri kejenuhan, kebosanan dan kelelahan akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) demikian kuat, akhirnya harus menyerah kepada keadaan. Pembelajaran secara daring masih harus dijalani dan entah sampai kapan akan seperti itu.

Situasi masih membutuhkan kesabaran orang tua, guru dan peserta didik untuk menerima kenyataan bahwa wabah telah mengubah segalanya. Situasi yang semula normal harus menyesuaikan dengan kondisi dan keterpaksaan harus menjadi kebiasaan.

Pengalaman ini  yang tidak akan pernah terlupakan oleh siapapun dan sampai kapanpun. Kelak akan menjadi cerita yang penting dalam lembaran buku-buku sejarah tentang kesulitan dan bagaimana menghadapi kesulitan itu agar tetap bisa bertahan (survive).

SekolahTetapi meski ada kesulitan dan hambatan akibat wabah virus corona, tak sedikit sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka secara langsung. Kegiatan di sekolah tetap bisa diselenggarakan secara baik.

Yang pasti pembelajaran tatap muka di sekolah itu tetap bisa diselenggarakan di luar DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terdapat 14 provinsi yang menyatakan siap melakukan pembelajaran tatap muka penuh.

Selain itu,  ada empat provinsi yang melaksanakan pembelajaran tatap muka tidak penuh (sebagian daring). Selebihnya, 16 provinsi melaksanakan pembelajaran sepenuhnya secara daring atau tatap layar.

Pemerintah pusat memang mengakomodasi aspirasi orang tua dan pemerintah daerah terkait penyelenggaraan pendidikan di tengah pagebluk ini. Tetapi ada syarat yang ketat dan dilakukan pengawasan pula.

Yakni adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di masa Pandemi COVID-19.

Menutup sekolah tidak membantu menghentikan sepenuhnya penyebaran virus. Itu hanya menambah beban para ibu yang bekerja,”

Memang Pandemi covid-19 ini memberi hikmah tersendiri pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini.  Saat ini para pendidik harus menerapkan proses kegiatan belajar mengajar yang lebih kreatif dan adaptif dengan menggunakan teknologi, untuk pembelajaran jarak jauh.

“Pandemi covid-19 ini memberi hikmah pada peringatan Hardiknas 2020 agar para pendidik menerapkan proses kegiatan belajar mengajar yang  lebih kreatif, komunikatif, berpikir kritis, dan kolaboratif,”

Covid-19 ini memberi pelajaran bahwa jangan sampai terjebak di zona nyaman. Artinya terus belajar, terus berinovasi. Sehingga mampu merespons dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

“Belajar terus tak pernah berhenti meskipun sudah lulus dan bekerja, karena zaman mudah berubah dengan cepat. Jadilah long life learner, dan untuk lembaganya jadilah learning organization yang terus inovatif dalam mendidik anak-anak bangsa,”.

Penyebaran virus yang cepat membuat dunia waspada terhadap virus corona. Beberapa negara telah melakukan pencegahan dengan menyiapkan travel warning dan memilih beberapa rumah sakit untuk dijadikan pusat pengobatan virus ini.

Beruntungnya masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim ini meyakini, Islam membatasi pengonsumsian makanan dan minuman pada yang halal serta thoyib saja sehingga apa yang dikonsumsi baik bagi kesehatan masyarakat. Sebaliknya, Islam mengharamkan setiap makanan yang dapat membahayakan tubuh serta menghilangkan fungsi akal.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *