Oleh Silmi Ilham Tajudin, S.Ag
Pemerhati masalah sosial
danKeagamaan alumni ilmu perbandingan Agama UIN Bandung aktivis PMII
Sejenak merefleksi pengalaman keagamaan dalam nuansa menahan rasa haus dan lapar dalam tajuk tujuan menjalankan rukun Islam yang ke empat dengan naawaetu lilahi taala sebgai muslim yang taat ajaran.
Meneropong sejauh mana nikmat iman dan Islam yang Allah berikan kepada hambanya dengan harapan besar sebagai insan kamil, ramadhan tidak terasa telah pergi begitu cepat satu bulan lamanya orang muslim menjalankan ibadah puasa, pengalaman keagamaan begitu dahsyat makna spiritual menjadi parameter sejauhmana insan mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.
Ramadhan begitu indah, ramadhan begitu bersejarah, ramadhan merubah segalanya, Ramdhan mengembalikan lahiriyah manusia pada porsinya sebagai landasan mencari ridho Allah.
Memang rasa indah dari nuansa Ramadhan begitu sulit untuk dilupakan, dari rumah ke rumah begitu bergemuruh orang-orang membaca Al-Qur’an.
Selamat datang bulan Syawal selamat tinggal bulan ramadhan begitu berat harus berpisah dengan bulan yang suci, pengalaman kebergamaan dibulan ini begitu terasa menusuk relung hati paling dalam, sampai menukik tajam jiwa manusia, benar- benar merasakan nikmatnya iman dan Islam, manakala patuh dan taat menjalankan puasa secara total (kappah).
Ekpresi keagamaan menjadi sekresi keindahan menjalankan ibadah, gerakan shalat tarawih akan menjadi sejarah, karena bagaimana tidak kenangan ramadhan begitu sulit dilupakan sampai bisa melewati tapal batas, selebrasi mengatakan begitu kuat semangat juang menjalankan puasa, rekontruksi ilmiah memang lumrah diraskan oleh semuan insan, kendati begitu rasa syukur rasa cinta kepada bulan ramadhan menjadi simbol kemenangan di hari yang Fitri 1442 Hijriyah 2021.***






