Oleh: Yuyun Suminah, A. Md
(Seorang Guru MDTA dan Pegiat Literasi di Karawang)
Memiliki anggota keluarga yang sehat lahir batin dan terbebas dari stunting menjadi harapan semua keluarga. Namun hal tersebut hanya sebatas harapan tak sebanding dengan fakta di lapangan. Pada tahun 2021 saja di Indonesia terdapat 12 provinsi yang bertatus prevalensi stunting. Salah satunya yaitu provinsi Jawa Barat. Kasus prevalensi stunting ini ditemui di Kabupaten Garut mencapai 35,2 persen atau yang tertinggi di Jawa Barat (Jabar).
Selain Garut kasus stunting yang cukup tinggi diantaranya Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, dan Kota Cirebon. Selanjutnya secara berturut-turut, Kabupaten Bandung Barat, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kota Bandung, dan Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, Kota Banjar, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Karawang. (stunting.go.id 15/08/22)
Bila kita telusuri lebih jauh ada beberapa faktor masalah stunting diantaranya masalah ekonomi. Ekonomi merupakan masalah krusial bagi berjalannya sebuah negara termasuk keluarga. Karena ekonomi bisa menentukan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan gizi sebuah keluarga.
Selain itu ketahanan pangan pun menjadi hal penting juga, dengan melimpahnya bahan pokok yang berkualitas dan terjangkau harga dan mudah masyarakat untuk mendapatkannya menjadi penentu mengatasi stunting.
Ditambah dengan minimnya pengetahuan para orangtua terutama seorang ibu mulai dari kehamilan sampai melahirkan karena lewat peran mereka amanah anak Allah titipkan untuk dirawat dan dijaga baik secara kebutuhan lahir maupun batinnya. Disinilah pentingnya pengetahuan para orangtua untuk memahami informasi kesehatan, asupan makanan dan bahaya stunting seperti apa.
Namun dalam sistem saat ini yaitu kapitalisme faktor-faktor tersebut belum optimal dijalankan oleh negara bahkan cenderung masyarakat mengurus dirinya sendiri. Padahal seorang pemimpinlah yang berkewajiban mengurusi rakyatnya baik sandang, papan dan pangannya.
Hal ini berbeda jauh dengan yang ada dalam sistem Islam, ini sudah terbukti secara tertulis dalam buku-buku sejarah bahwa seorang pemimpin benar-benar menjalankan perannya dengan maksimal. Apalagi Rasulullah sudah mengingatkan dalam sabdanya yang artinya:
“Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)
Dalam Islam mengatasi stunting dimulai dari ekonomi disini peran negara sangat penting. Negara akan mengkondisikan dan mengatur perekonomian rakyat dengan mudahnya para ayah bekerja sehingga daya beli masyarakat meningkat dengan terjangkaunya dan mudah mendapatka bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Selain itu edukasi masyarakat pun didukung penuh dengan adanya fasilitas pendidikan yang gratis. Lewat pendidikan segala informasi didapatkan termasuk cara mendapatkan informasi terkait stunting. Tak kalah penting layanan kesehatan pun diberikan secara cuma-cuma baik kepada kesehatan ibu dan masyarakat umum lainnya jika ada keluarga yang sakit.
Dengan mengembalikan peran negara sesuai syariat maka mewujudkan keluarga tangguh sehat lahir batin bebas stunting pun akan dengan mudah diraih oleh setiap keluarga.
Wallahualam.






