“Aktivis PMII, Kenaikan Harga BBM Itu Musibah, Menyakiti Rakyat Kecil ! “

  • Whatsapp
  1. Bandung, mediagempar.web.id- Aktivis Perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII) menolak keras wacana kebijakan pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Bersubsidi pertalite dan solar. Hal ini disampaikan oleh Imelda Islamiyati. Menurutnya kebijakan ini sangat memukul rakyat kecil dan berpotensi menambah angka kemiskinan.

Dia mengatakan keadaan masyarakat bawah belum pulih total pasca pandemi Covid-19 ” Jangan tambah beban masyarkat kecil untuk makan juga hari ini susah apalagi dihadapkan dengan kenaikan BBM bersubsidi, mereka akan terpukul ekonominya bahkan akan sulit kembali untuk bangkit dari keterpurukan yang menjerat masyarkat miskin”. Kata dia melalui sambungan seluler sangat kami wawancara, Sabtu, 3 September 2022.

Kenaikan BBM secara kebijakan Makro menurut Imelda untuk sekarang bukan solusi itu akan menambah masalah baru, karena tingginya inflasi berpengaruh pula terhadap konsumsi rumah tangga sebagai perempuan saya mengkritisi hal ini karena efek global kenaikan BBM sangat berpengaruh terhadap roda ekonomi sosial, apalagi kebutuhan bahan pokok saat ini tidak stabil harga sembako di Jawa barat hari ini menunjukan ketidak wajaran mulai dari minyak goreng, beras , telor, berbalik dengan data pengangguran menurut BPS jumlahnya 8,35 % dari penduduk Jawa barat 48.782.402 juta jiwa, kebayang akan terjadi apa ketika BBM naik ekonomi belum pulih .

” BBM bersubsidi itu adalah jantungnya transportasi semua aktivitas ekonomi mengandalkan bahan bakar saya katakan kebijakan menaikan harga untuk saat ini bukan solusi terbaik stop diskriminasi kebijakan publik” terangnya

Kendati demikian, Imelda berharap kepada pemerintah tolong pertimbangkan dengan sangat matang, kaji secara mendalam cek dilapangan sejauh mana ekonomi rakyat pasca pandemi covid-19, jangan sampai dengan kebijakan ini melahirkan masalah baru, semua orang dapat bertindak apa pun ketika soal kebutuhan perut, kebutuhan ekonomi, dengan berbagai tekanan psikis, meningkatnya kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT), angka kejahatan bermunculan, orang depresi, alasannya klasik hanya gara-gara ekonomi untuk kebutuhan hidup. Pungkasnya ( Tzn Ilham )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *