Bandung.mediagempar.web.id – Memang Tatap Muka secara terbatas dalam proses belajar mengajar tingkat Sekolah Pertama (SMP) yang berjumlah 82 sekolah, di Kabupaten Bandung baru berjalan satu minggu lalu dengan menerapkan Protokol Kesehatan yang ketat, diikuti 50 persen jumlah siswa perkelas.Demikian ungkap Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama Disdik Pembab Bandung Dr.H. Tubagus (TB) Rucita, M.M.Pd menjawab pertanyaan di ruang kerjanya, Jumat (10/9/2021).
H.TB.Rucuta mengatakan,6 ada 4 (empat) aspek yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Keempat aspek itu imbuhnya, meliputi kebijakan, kepemimpinan Kepala Sekolah, Infrastruktur, dan proses pembelajaran, termasuk kebijakan distribusi dan rekrutmen guru.
“Peningkatan mutu pendidikan sejatinya diawali dari program yang diterapkan untuk satuan pendidikan, mulai jenjang pendidikan,”ujarnya.
Menurut T.B. Rucita, aspek kedua ialah kepemimpinan (leadership) kepala sekolah juga tak kalah penting di dalam manajemen berbasis sekolah.
“Saya pikir, tergantung school based management, artinya leadership kepala sekolah, transparansi keuangan, hubungan ekosistem berjalan di sekolah antara guru dengan kepala sekolah, orang tua dengan guru, maupun dengan siswa dan seluruh yang ada di satuan pendidikan, ekosistemnya harus jalan,” paparnya.
Kepala sekolah yang memiliki kreativitas dan inovasi bagus demikian tandasnya, bisa membuat sekolah yang dipimpinnya menjadi bagus pula. Oleh karena itu pihaknya juga fokus pada reformasi manajemen sekolah.
Aspek ketiga, lanjutnya ialah infrastruktur, yang tidak lain adalah sarana dan prasarana terkait dengan kelas, laboratorium, maupun teknologi informasi dan komunikasi. Itu semua kata H.TB.Rucita, berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan.
“Apalagi sekarang dunia tanpa batas. Siswa bisa belajar tidak hanya dari guru dan buku yang ada, melainkan bisa belajar dari media sosial,” jelasnya.
Sedangkan aspek keempat masih menurutnya, yang tidak kalah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan ialah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang menyenangkan, yang berinovasi dan penuh kreativitas lanjut H.TB.Rucita , dapat mendorong anak-anak terbangun motivasinya.
Namun, proses pembelajaran juga, bebernya, tergantung dari potensi guru, kecakapan guru, dan kemampuan guru. Proses pembelajaran yang mendorong kreativitas juga mendukung untuk memenuhi empat kompetensi yang harus dimiliki generasi bangsa dalam menghadapi tantangan abad 21.
“Empat kompetensi yang biasa disingkat 4C tersebut meliputi Critical Thinking (berpikir kritis), Collaboration (kemampuan bekerja sama dengan baik), Communication (berkomunikasi) dan Creativity (kreativitas).
H.TB.Rucita menegaskan, bahwa keempat kompetensi tersebut harus masuk ke dalam proses pembelajaran di sekolah sehari-hari. Inovasi dan kreativitas lanjutnya, bisa menjadi kekuatan Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung yang memiliki bonus demografi, sehingga generasi bangsa akan bisa bersaing dengan negara lain pada abad 21.
Dikatakannya, dalam proses pembelajaran juga harus dimasukkan pendidikan karakter.Jadi empat kompetensi inilah yang kita harapkan di dalam proses pembelajaran, terbentuk dalam karakter, apalagi pendidikan karakter juga memang sudah menjadi program pemerintah.(Kang Baden).






