Kekuasaan Bak Candu

  • Whatsapp

Oleh H.Ridwan Redaktur mediagempar.web.id

Kekuasan bak candu, apapun levelnya. Sungguh lezat, nikmat dan terkadang mampu membius nalar waras.
Jangankan yang belum mendulang kekuasaan, yang sudah mengais kekuasaan- pun,(baca petahana) ngotot ingin mempertahankan kekuasaan dan nyaris menghalalkan segala cara


Sebagaimana pendapatTeori Lord Acton, seorang politisi Inggris abad 19: “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut korupsi secara absolut), bukanlah isapan jempol belaka. Ini nyata dan benar-benar warning bahwa kekuasaan itu memang memabukkan. Karenanya, seseorang bisa terlena. Karenanya, seseorang bisa lupa siapa dia sesungguhnya. Karenanya, seseorang bisa terjerembab ke lembah yang paling nista.

Malah Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, berpesan kepada para penguasa, seperti sultan, raja, presiden, gubernur, bupati, wali kota, atau siapapun termasuk Kepala Desa yang memiliki akses kekuasaan agar hati-hati menggunakan kekuasaannya.

Kekuasaan adalah sumber kekuatan yang bisa diarahkan untuk berbagai kepentingan. Melalui kekuasaannya, seseorang bisa melakukan apapun yang dia mau.

Dalam kitab Al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, Al-Ghazali memberikan catatan kepada para penguasa dengan mengutip sebuah hadis Nabi yang berbunyi: “Keadilan penguasa meski hanya satu hari lebih aku senangi ketimbang beribadah selama 70 tahun”.

Tokoh sufi abad 12 M ini sangat konsen terhadap pentingnya para penguasa berperilaku adil dengan tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bahkan, Al-Ghazali juga mengkritik keras koleganya sendiri, sesama ulama, yang sikapnya menjadi sebab kerusakan rakyat dan penguasa.

Ia berkata: “Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Sementara, rusaknya para ulama itu karena kecintaan mereka pada harta dan kedudukan. Sesiapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia, dia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal remeh (kecil), bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar?”. Hal ini diungkapkannya sampai dua kali dalam karya magnum opusnya, Ihya’ Ulum al-Din.

Perhatian Al-Ghazali terhadap para penguasa karena mereka memiliki kemampuan mengendalikan area publik. Posisinya sangat strategis sehingga perlu dikontrol, diingatkan, dan diberi warning secara terus menerus agar mereka tidak lupa terhadap amanah yang dipercayakan di pundaknya.

SPIRITUALITS KEKUASAAM
Jabatan dan kekuasaan adalah dua media yang saling terkait. Saat seseorang memiliki jabatan, secara otomatis memiliki kewenangan-kewenangan tertentu yang disebut kekuasaan. Nah, bagaimana spiritualitas kekuasaan itu, berikut uraiannya:

Pertama, penguasa adalah “wakil” Tuhan di muka bumi. Jika kita lacak dalam referensi teologis, manusia di bumi adalah mandataris Tuhan (khalifah) yang mengemban tugas suci sebagai makhluk spiritual. Apalagi dalam posisi sebagai seorang penguasa (pejabat) yang memiliki banyak akses politik.

Guru besar UIN Jogjakarta, Abdul Munir Mulkhan, menyebut kekuasaan itu bukan sekadar wilayah materiil untuk menduduki sebuah jabatan, seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, atau semacamnya. Akan tetapi kekuasaan yang memiliki kewenangan politik diperlukan ranah spiritual sebagai ruh, sebagai energi yang membuat kekuasaan menjadi dinamis, indah, memiliki vitalitas dan daya hidup, pengikat komunitasnya.

Menurutnya, menduduki jabatan bukan untuk membungkam lawan politiknya atau orang-orang yang tidak disukai. Sebaliknya, kekuasaan adalah harmonisasi untuk menyatukan beragam komunitas bagi tujuan kemanusiaan yang lebih besar dari sekadar kepentingan fisik materiil.

Lalu muncul pertanyaan, bisakah seseorang yang sedang berkuasa dapat memberikan tempat bagi siapa pun, ruang untuk berteduh? Dalam konteks spiritual, seorang penguasa harus mampu menjadi pengayom semua elemen sosial, bahkan menjadi pelindung bagi kehidupan sekitarnya, termasuk lingkungan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *