Garut.mediagempar.web.id-
Salah satu objek wisata religi (Makam karomah) yang cukup terkenal di Kecamatan BL.Limbangan adalah Sunan Rumenggong yang bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau Prabu Jaya Kusumah berada di kawasan Gunung Sangiang tepatnya di Kampung Poronggol Desa Ciwangi. Demikian ungkap salah satu Putra Pendiri Pondok Pesantren Al- Quran Alfadillah Ciseureuh Limbangan, Rd Iip Ahmd Syafe’i menjawab pertanyaan di kediamannya, Jumat (30/4/2021).
“Selain objek wisata religi (makam karomah) di kawasan Gunung tersebut sudah lama warga sekitar menanam kopi dan tumbuh baik kopi arabika, namun belum pernah ada terpublikasikan, hanya lewat kabar dari mulut kemulut,” ujarnya.
Menurut Rd Iip begitu ia akrab disapa, dirinya sebagai pecandu kopi, ternyata biji kopi dari kawasan Sunan Rumenggong berkualitas dan dibuktikan setelah diproses menjadi bubuk kopi salah satu bahan penting yang diperlukan dalam pembuatan minum kopi menghasilkan minuman kopi yang nikmat.



Rd Iip, selain dikenal sebagai salah satu putra pendiri sekaligus Pengasuh pondok Pesantren Al-Quran Alfadillah Ciseureuh KH.Rd. Ahmad Dasuqi (Almarhum), tapi juga Kiyai muda ini tergolong sosok ustad gaul yang piawai membangun akses keberbagai kalangan yang berjiwa entrepreneurshif seperti
bersikap percaya diri, berani mengambil risiko, berjiwa pemimpin, visioner, serta berorientasi pada hasil.
Bukuk kopi peluang yang harus ditangkap dan dikembangkan, sebab usaha bubuk kopi memiliki potensi usaha yang cukup menjanjikan lebih- lebih bila dibuat dengan cara tradisional.
“Ini membuktikan betapa minum kopi adalah aktivitas yang dekat dengan berbagai kalangan masyarakat. Dari desa hingga perkotaan, dari yang muda hingga yang tua, semua senang minum kopi,” paparnya.
Dengan tafaul, sekaligus mengharap berkah (karomah) dari Sunan Rumenggong, akhirnya usaha bubuk kopi yang baru dirintis Kang Iip begitu ia akrab disapa memakai label atau merek prodak dari salah satu putri Sunan Rumenggong yang bernama Buni wangi.
“Memang usaha (bisnis) kopi yang saya kelola dan jalankan baru seumur jagung, pas menginjak 3 bulan hingga kini, tergolong mulai growing dan masuk kata gori home industri,” ujarnya.
Ditanya pangsa pasarnya kemana saja dan sasaran yang dibidak siapa, ia mengatakan berbagai kalangan masyarakat. Jujur saja terangnya, namanya baru growing dia sendiri langsung memasarkan Kopi Buni wangi ke berbagai koleganya, Kalangan pondok pesantren,serta berbagai komunitas juga dipasarkan (dijual) kesejumlah Cape Kopi .
Masalah harga kopi buni wangi demikian tutur Kang Iip harganya tidak terlalu mahal, terjangkau berbagai kalangan, per fis Arabika dengan label Buni wangi Rp 20.000, Bland per fis Rp 18.000, Robusta Rp16.000.
Kang Iip dalam mengakhiri perbincangan menghimbau khususnya pada para pecandu kopi, lebih baik mengkonsumsi kopi original atau asli. (Kang Baden).






