Tasikmalaya. mediagempar.web.id-Pandemi Covid- 19 hingga kini intensitas cenderung terus meningkat, selama kurang lebih 7 bulan melanda Indonesia, virus mematikan ini tak kunjung hengkang. Berbagai dampak telah di rasakan oleh masyarakat. Tidak hanya pada aspek kesehatan dan ekonomi, tetapi juga berdampak pada keharmonisan rumah tangga.
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini mengaku sudah memprediksi terjadinya fenomena perceraian pada masa pandemi Covid-19. Apalagi, fenomena serupa juga terjadi di beberapa negara lain.
“Kami sebenarnya telah mendiskusikan hal ini pada awal pandemi lalu, sekitar Maret atau April, bahwa fenomena ini telah terjadi di beberapa negara yang juga terpapar Covid-19, di mana angka perceraian meningkat pada masa pandemi,” kata Diyah sebagaimana dilansir Republika, Rabu (26/8/2020) lalu.
Diyah mengatakan, terdapat sejumlah alasan di balik meningkatnya angka perceraian selama pandemi. Salah satunya, didasari oleh faktor internal keluarga.
“Memang banyak hal yang dapat menjadi alasan, salah satunya faktor internal keluarga jadi komunikasi yang tidak maksimal antara suami dan istri, itu juga menjadi perhatian,” ujar Diyah.
Selain itu, kata Diyah, faktor eksternal juga dapat menjadi alasan dibalik maraknya kasus perceraian yang terjadi. Terbatasnya ruang gerak selama pandemi menyebabkan kejenuhan tersendiri.
“Karena di masa pandemi seperti sekarang memang menjadikan seseorang yang aktif beraktivitas di luar menjadi berkurang dan terbatas geraknya karena harus lebih lama menghabiskan waktu di rumah, itu juga menjadi kejenuhan tersendiri,” ujarnya.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi alasan kuat banyaknya pasangan yang memilih untuk berpisah. Mengingat banyaknya karyawan yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi.
Ditelisik lebih jauh, maraknya perceraian bukan semata-mata karena efek wabah virus corona. Adanya wabah adalah kehendak Sang Khalik yang menjadi ujian bagi hamba-Nya. Maka ketika sejak awal niat suami isteri membangun rumah tangga didasari niat ibadah, membina keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah dan pondasi rumah tangga sudah kokoh, tidak akan ada kata pisah atau cerai meskipun ujian pandemi melanda.
Namun sebaliknya, jika pondasi rumah tangga sejak awal sudah rapuh, maka adanya pandemi atau tidak, akan tetap membuat rumah tangga goyah. Apalagi jika diuji dengan krisis ekonomi, rumah tangga bisa ambruk yang berujung perceraian.
Buah Kapitalisme
Perkawinan merupakan langkah awal membangun keluarga. Disyariatkannya perkawinan maka keturunan manusia akan terus berlangsung dan terjaga. Niat perkawinan dalam rangka ibadah untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah sehingga keharmonisan, kecintaan dan keserasian akan berhasil diwujudkan dalam bahtera rumah tangga.
Namun kita lihat saat ini, rumah tangga modern sangat rentan bubar. Padahal tidak sedikit dari mereka, baik suami maupun isteri memiliki taraf pendidikan tinggi. Salah satu sebabnya adalah kehidupan sekuler kapitalistik.
Kebahagiaan keluarga diukur dari penghasilan. Segala sesuatu dinilai dengan materi.***






