OLEH: REDAKSI MEDIAGEMPAR
Pesatnya teknologi digital seringkali tidak membuat manusia semakin arif, melainkan semakin culas akibat krisis intelektual dan matinya akal sehat. era digital ini menuntut tabayyun (verifikasi) yang lebih ketat, bukan sekadar kecepatan menyebarkan berita, agar tidak terjebak dalam disinformasi yang merusak tatanan sosial.
Di zaman informasi mengalir lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya. pesatnya teknologi digital, seringkali tidak membuat manusia semakin arif, melainkan semakin culas akibat krisis intelektual dan matinya akal sehat. era digital ini menuntut tabayyun (verifikasi) yang lebih ketat, bukan sekadar kecepatan menyebarkan berita, agar tidak terjebak dalam disinformasi yang merusak tatanan sosial.
Perkembangan teknologi digital saat ini telah membawa perubahan besar dalam perilaku sosial masyarakat, di mana viralitas seringkali dianggap lebih penting daripada moralitas. fenomena ‘profesor google’ dan kemudahan mempercayai informasi tanpa literasi memadai menuntut kita untuk tetap kritis dan tidak mudah tergelincir oleh ilusi kuantitas—di mana mayoritas tidak selalu berarti kebenaran.
Tahun 2026, dunia dihadapkan pada tantangan ekonomi yang cukup serius, yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk industri teknologi. sementara itu, krisis lingkungan seperti kemarau dan bencana, menuntut solidaritas sosial yang lebih kuat untuk melawan ketakutan dan bahaya.
Yang jelas situasi zaman saat ini adalah era paradoks—teknologi canggih beriringan dengan krisis literasi dan moral, yang memerlukan kewaspadaan, literasi, dan solidaritas.






